Site Network: Personal | Online Shop | Gamat Jeli

 

This blog is about everything I want to share with you...



Adzab Orang Yang Lalai dalam Sholat

Penulis: Ummu Salamah Farosyah

Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

Allahu Akbar!… Allahu Akbar! Allahu Akbar!… Allahu Akbar!

“Duh! Sudah adzan, sebentar lagi ah shalatnya… tanggung kerjaannya tinggal sedikit lagi.”

“Eh kok adzan? Padahal filmnya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau filmnya sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”

Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…


Ketahuilah ukhti bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah, yang artinya
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
(QS. Al-Maa’uun: 4-5)

Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:

  1. Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
  2. Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.

Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya).

Apa Adzabnya ?

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari sahabat Samurah bin Junab radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang panjang tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam kisah tentang mimpi beliau):

“Kami mendatangi seorang laki-laki yang terbaring dan ada juga yang lain yang berdiri sambil membawa batu besar, tiba-tiba orang tersebut menjatuhkan batu besar tadi ke kepala laki-laki yang sedang berbaring dan memecahkan kepalanya sehingga berhamburanlah pecahan batu itu di sana sini, kemudian ia mengambil batu itu dan melakukannya lagi. Dan tidaklah ia kembali mengulangi lagi hal tersebut sampai kepalanya utuh kembali seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti semula dan ia terus-menerus mengulanginya seperti pertama kali.”

Disebutkan dalam penjelasan hadits ini “Sesungguhnya laki-laki tersebut adalah orang yang mengambil Al-Qur’an dan ia menolaknya, dan orang yang tidur untuk meninggalkan shalat wajib.”

Lalu Bagaimana Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Mutlak ?

Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan hukumnya kafir keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perbedaan antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi -Shahih)

Demikianlah Ukhti, marilah kita bersama-sama berusaha maksimal untuk memperbaiki shalat kita karena ketahuilah bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti adalah shalat. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kehinaan dan kondisi orang-orang yang di adzab Allah karena lalai dari shalat.

Maraji’:
Setelah Maut Datang Menjemput
(Khalid bin Abdurrahman Asy-Syayi’)

Sumber: http://www.muslimah.or.id

Labels:

posted by n.lestari @ 2:43:00 PM, ,




Jangan Berduka


Oleh : Abu Abdil Ghany (Majalah Nabila)

Hati tenang, bahagia, dan hilangnya kegundahan adalah dambaan setiap insan.

Insan yang berakal menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah dalam bukunya, al-Wasaailu al-Mufaidah lil Hayatatis Sa’idah mengetahui bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan yang ia jalani dengan bahagia dan tenang. Kehidupan ini pendek sekali, lanjut Syaikh AAS-Sa’di, maka tak sepantasnya memperpendek dengan kesedihan dan larut dalam kesusahan.

Jika seorang hamba ditimpa musibah atau takut akan sebuah musibah hendaklah membandingkan antara nikmat-nikmat yang ia dapatkan, baik dalam urusan agama atau dunia dengan musibah yang menimpanya. Dengan membnandingkan akan jelas baginya betapa banyak nikmat yang dia dapatkan dan tertutupilah musibah yang menimpanya.

Selanjutnya Syaikh as-Sa’di menyarankan, hendaknya juga membandingkan antara kemungkinan bahaya yang akan menimpanya dengan banyaknya kemungkinan akan dapat selamat darinya. Jangan sampai kemungkinan yang lemah dapat mengalahkan kemungkinan-kemungkinan kuat dan banyak. Dengan demikian, akan hilanglah kesedihan dan perasaan takutnya.

Juga memperkirakan hal paling besar yang dapat menimpanya, kemudian menyiapkan mental untuk menghadapi bila memang terjadi, berusaha mencegah apa-apa yang masih belum terjadi dan menghilangkan atau paling tidak meminimalisir musibah yang sudah terjadi.

Bila Tak Kesampaian

Bila seseorang dihadapkan dengan ketakutan , sakit, kekurangan atau tidak tercapai keinginannya, hendaklah dihadapi dengan tenang dan kesiapan mental, bahkan dia harus siap menghadapikeadaan yang lebih berat sekalipun, sebab, kesiapan mental dalam menghadapi musibah akan mengecilkan musibah tersebut dan menghilangkan bobotnya. Terutama bila dia berusaha melawan sesuai kemampuan, sehingga dapat memadukan antara kesiapan mental dan usaha maksimal yang dapat mengalihkan perhatian dari musibah yang akan dating. Dan yang lebih penting lagi adalah selalu memperbarui kekuatan menghadapi musibah disertai dengan tawakkal dan yakin kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala.

Jika hati bersandar kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, bertawakal kepada-Nya, tidak menyerahkan pada prasangka-prasangka buruk juga tidak dikuasai khayalan-khayalan negative, yakin serta sungguh-sungguh berharap atas karunia Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, maka akan terusirlah perasaan sedih dan hilanglah berbagai macam penyakit fisik dan jiwa.

Akan dicukupkan

Hati bisa mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan. Banyak rumah sakit yang penuh dengan pasien yag sakit karena prasangka-prasangka buruk dan khayalan-khayalan menyesatkan. Banyak orang yang kuat hatinya tapi masih terpengaruh dengan hal tersebut, apalagi orang yang memang kemah hatinya. Dan betapa sering hal tersebut menyebabkan kedunguan dan kegilaan, kata Syaikh as-Sa’di. Orang yang sehat dan selamat adalah yang diselamatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’Ala dan diberi-Nya taufik untuk berusaha mendapatkan faktor-faktor yang bias menguatkan hatinya dan mengusi kegelisahannya.

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya”. (Ath-Thalaq: 3).

Artinya Allah Subhaanahu wa Ta’Ala akan mencukupkan untuknya semua apa yang dia butuhkan dari urusan agama dan dunianya.

Maka orang yang bertawakal kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala, hatinya kuat. Tidak dapat dipengaruhi prasangka-prasangka buruk, tidak dapat digoncang oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi, sebab dia tahu hal itu termasuk indikasi lemahnya jiwa dan perasaan takut yang tidak beralasan. Dia tahu, Allah Subhaanahu wa Ta’Ala akan menjamin sepenuhnya orang yang bertawakal kepada-Nya, dia yakin kepada Allah Subhaanahu wa Ta’Ala dan tenang karena percaya akan janji-Nya. Dengan demikian, hilanglah duka dan gelisah. Kesulitan berubah menjadi kemudahan, kesedihan menjadi kegembiraan dan perasaan takut menjadi keimanan.

Diketik ulang oleh : Ummu ‘Umar dari Majalah Nabila (2004)

Sumber: http://www.jilbab.or.id

Labels:

posted by n.lestari @ 9:21:00 AM, ,




Syukur dan Sabar


Hidup seorang muslim hendaknya selalu berada pada dua hal: hal bersyukur dan sabar. Jika ia sehat, ia bersyukur dan gunakan kesehatannya untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sebaliknya, jika sakit, ia ikhlas dan bersabar sambil terus menerus berusaha mengobatinya, disertai dengan sikap tawakal pada Allah. Ia sadar, Allah-lah zat yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Dalam kaitan ini Allah berfirman :

" (Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat." - Asy Syu'araa'; 26: 78 -82.

Oleh karenanya berobat termasuk salah satu perintah dalam ajaran Islam. Rasulullah bersabda : "Setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kamu sekalian, tetapi jangan berobat dengan sesuatu yang diharamkan" Di samping itu ada hal yang perlu diingatkan, untuk tidak berobat ke dukun mistik, paranormal yang mengerti ilmu gaib.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang mendatangi dukun peramal (kahin), maka sungguh dia telah kufur kepada apa (Al Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam"

Rasulullah sendiri tidak mampu meramalkan yang gaib, yang akan terjadi pada dirinya. Allah berfirman: " Katakanlah aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan, kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." - Al-A'raaf ; 7: 188

Penyakit itu kadang kala datang dengan tiba-tiba, sementara penyembuhannya kadangkala membutuhkan waktu lama. Tidak ada sikap yang perlu dipegang selain bersabar dan bertawakal kepada Allah SWT.

Rasulullah bersabda : "Jauhilah olehmu segala yang diharamkan, maka pasti engkau akan menjadi orang yang paling taat beribadah. Bersikaplah ridha terhadap segala apa yang telah Allah tetapkan kepadamu." (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

Dalam hadist lain Rasulullah bersabda pula : " Aku bangga dengan seorang muslim, jika menimpa kepadanya suatu musibah ia ikhlas dan bersabar. Jika mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah dan bersyukur. Sesungguhnya muslim itu pada segala aktivitasnya selalu akan mendapatkan pahala dari Allah sekalipun pada sesuap nasi yang ia masukkan ke dalam mulutnya." (HR Imam Baihaqi dari Sa'ad)

Disamping kesabaran dan ketabahan, juga harus memiliki sikap husnu-zhan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada si sakit adalah kebaikan buat dirinya.

Rasulullah bersabda : "Aku bangga dengan orang mukmin, sesungguhnya Allah SWT tidaklah menetapkan suatu keputusan, kecuali akan berakibat baik kepadanya." (HR Ibnu Hibban dari Anas)

"Aku heran dengan mukmin yang gelisah menghadapi penderitaan sakitnya. Jika ia mengetahui sesuatu (pahala) yang terdapat pada sakitnya, ia pasti akan mengharapkan sakit tersebut sehingga bertemu dengan Allah SWT." (HR Thabrani dari Ibn Mas'ud)

Berbaik sangka kepada Allah akan melahirkan persangkaan baik pula kepada sesama manusia. Prinsip semacam inilah yang akan melahirkan sikap saling mengerti, saling memahami, senasib sepenanggungan, saling merasakan (empati), serta suka dan duka dirasakan bersama.Menjenguk orang yang sakit adalah puncak dari rasa persaudaraan yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh setiap muslim. Tiada iman tanpa ukhuwah (rasa persaudaraan) yang mendalam.

Rasulullah bersabda : " Engkau lihat orang-orang mukmin dalam sayang menyayanginya, saling mencintai dan saling mengerti, adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainnya akan merasakan pula panas dan demamnya." (HR Ahmad dari Abu Umamah).

K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.

-Sakit Menguatkan Iman-

Labels:

posted by n.lestari @ 6:41:00 AM, ,




Berjaga dengan Investasi Emas


Orang tua zaman dulu biasa berinvestasi dalam bentuk emas, baik perhiasan maupun batangan. Investasi fisik lainnya berupa tanah, sawah, dan bangunan. Suatu waktu, jika diperlukan, misalnya untuk naik haji atau membiayai anak sekolah aset itu dicairkan. Untungnya berinvestasi seperti ini adalah mudah dicairkan dan lindung nilainya (hedging) yang cukup baik.

Harga emas cenderung stabil, fluktuasinya tidak jauh berbeda dengan inflasi. Pada tahun 1960-an harga ongkos naik haji saat setara dengan 250-300 gram emas. Sampai kini, ternyata masih sama, ongkos naik haji masih berkisar antara 250-300 gram emas.

Inilah mengapa, investasi emas di zaman sekarang masih tetap menarik. “Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang”, jangan berinvestasi hanya pada satu instrumen. Emas bisa menjadi pilihan diversifikasi portofolio investasi. Investasi emas bisa sebagai bumper, jika inflasi meninggi dan instrumen investasi dinilai akan kalah keuntungannya dari inflasi jika dicairkan.

Menurut Ahmad Ghazali, perencana keuangan Safir Senduk dan Rekan, investasi emas sebaiknya hanya sekitar 10-20 % dari total aset seseorang atau keluarga. Komposisi ini disebut paling rasional karena tujuannya bukanlah penumpukkan harta, tetapi memberikan perlindungan nilai dan menjadi benteng pertahanan terakhir pada aset kekayaan.(sharing)

Sumber: http://www.halalguide.info


Labels:

posted by n.lestari @ 2:47:00 PM, ,




Siapakah Yang Ukhti Pilih?


Penyusun: Ummu Ibrohim (Bulletin Zuhairoh)

Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Menikah, satu kata ini akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi pemuda ataupun pemudi yang sudah mencapai usia remaja. Remaja yang sudah mulai memiliki rasa tertarik dengan lawan jenisnya, akan memperhatikan pasangan yang diimpikan menjadi pasangan hidupnya. Sejenak waktu, hatinya akan merenda mimpi, membayangkan masa depan yang indah bersamanya.

Saudariku muslimah yang dirahmati Allah, tentu kita semua menginginkan pasangan hidup yang dapat menjadi teman dalam suka dan duka, bersama dengannya membangun rumah tangga yang bahagia, sampai menapaki usia senja, bahkan menjadi pasangan di akhirat kelak. Tentu kita tidak ingin bahtera tumah tangga yang sudah terlanjur kita arungi bersama laki-laki yang menjadi pilihan kita kandas di tengah perjalanan, karena tentu ini akan sangat menyakitkan, menimbulkan luka mendalam yang mungkin sangat sulit disembuhkan, baik luka bagi kita maupun bagi buah hati yang mungkin sudah ada. Lagipula, kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala, Robb sekaligus Illah kita satu-satunya sangat membenci perceraian, meskipun hal itu diperbolehkan jika memang keduanya merasa berat.


“Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Itulah slogan yang biasa dipakai untuk masalah kesehatan. Dan untuk masalah kita ini, yang tentunya jauh lebih urgen dari masalah kesehatan tentu lebih layak bagi kita untuk memakai slogan ini, agar kita tidak menyesal di tengah jalan.

Saudariku muslimah, sekarang banyak kita jumpai fenomena yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan hati. Banyak dari saudari-saudari kita yang terpesona dengan kehidupan dunia, sehingga timbul predikat ‘cewek matre’, yaitu bagi mereka yang menyukai laki-laki karena uangnya. Ada juga diantara saudari kita yang memilih laki-laki hanya karena fisiknya saja. Ada juga diantara mereka yang menyukai laki-laki hanya karena kepintarannya saja, padahal belum tentu kepintarannya itu akan menyelamatkannya, mungkin justru wanita itu yang akan dibodohi.

Sebenarnya tidak mengapa kita menetapkan kriteria - kriteria tersebut untuk calon pasangan kita, namun janganlah hal tersebut dijadikan tujuan utama, karena kriteria-kriteria itu hanya terbatas pada hal yang bersifat duniawi, sesuatu yang tidak kekal dan suatu saat akan menghilang. Lalu bagaimana solusinya ? Saudariku, sebagai seorang muslim, standar yang harus kita jadikan patokan adalah sesuatu yang sesuai dengan ketentuan syariat. Karena hanya dengan itu kebahagiaan hakiki akan tercapai, bukan hanya kebahagiaan dunia saja yang akan kita dapatkan, tapi kebahagiaan akhirat yang kekal pun akan kita nikmati jika kita mempunyai pasangan yang bisa diajak bekerjasama dalam ketaatan kepada Allah.


Diantara kriteria-kriteria yang hendaknya kita utamakan antara lain:

1. Memilih calon suami yang mempunyai agama dan akhlak yang baik, dengan hal tersebut ia diharapkan dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna dalam membimbing keluarga, menunaikan hak istri, mendidik anak, serta memiliki tanggung jawab dalam menjaga kehormatan keluarga.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”

2. Memilih calon suami yang bukan dari golongan orang fasiq, yaitu orang yang rusak agama dan akhlaknya, suka berbuat dosa, dan lain-lain.

“Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq, berarti memutuskan tali keluarga.” (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhu’afa’ & Ibnu Adi)

Ibnu Taimiyah berkata, “Laki-laki itu selalu berbuat dosa, tidak patut dijadikan suami. Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang salaf.” (Majmu’ Fatawa 8/242)

3. Laki-laki yang bergaul dengan orang-orang sholeh.

4. Laki-laki yang rajin bekerja dan berusaha, optimis, serta tidak suka mengobral janji dan berandai-andai.


5. Laki-laki yang menghormati orang tua kita.

6. Laki-laki yang sehat jasmani dan rohani.

7. Mau berusaha untuk menjadi suami yang ideal, diantaranya: Melapangkan nafkah istri dengan tidak bakhil dan tidak berlebih-lebihan; memperlakukan istri dengan baik, mesra, dan lemah lembut; bersendau gurau dengan istri tanpa berlebih-lebihan; memaafkan kekurangan istri dan berterima kasih atas kelebihannya; meringankan pekerjaan istri dalam tugas-tugas rumah tangga; tidak menyiarkan rahasia suami istri; memberi peringatan dan bimbingan yang baik jika istri lalai dari kewajibannya; memerintahkan istri memakai busana muslimah ketika keluar; menemani istri bepergian; tidak membawa istri ke tempat-tempat maksiat; menjaga istri dari segala hal yang dapat menimbulkan fitnah kepadanya; memuliakan dan menghubungkan silaturahim kepada orang tua dan keluarga istri; memanggil istri dengan panggilan kesukaannya; dan yang terpenting bekerjasama dengan istri dalam taat kepada Allah Ta’ala.


Satu hal yang perlu kita ingat saudariku, bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna. Jangan pernah membayangkan bahwa laki-laki yang sholeh itu tidak punya cacat & kekurangan. Tapi, satu hal yang tidak boleh kita tinggalkan adalah ikhtiar dengan mencari yang terbaik untuk kita, serta bertawakal kepada Allah dengan diiringi do’a.

Maroji’: Ensiklopedi Wanita Muslimah. Haya bintu Mubaroh Al-Barik.

***

Sumber: http://www.muslimah.or.id



Labels:

posted by n.lestari @ 5:03:00 PM, ,




4 Kunci Rumah Tangga Harmonis

Oleh: Mochamad Bugi

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.

Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga. Keempatnya adalah:

1. Jangan melihat ke belakang

Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.

Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.

Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif

Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.

Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.

Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.

Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya

Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.

Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segalakekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga

Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.

Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Labels:

posted by n.lestari @ 9:42:00 AM, ,




Kecantikan Sejati

Dikirim: Ummu Yusuf Wikayatu Diny
Muroja’ah: Ust Aris Munandar

Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugrahkannya seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan selama di luar rumah terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta. Kesenangan di luar tak menjadikan suami merasa jengah di rumah. Sebab surga ada di rumahnya; Baiti Jannati (rumahku surgaku).

Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat suami bertambah kuat jalinan perasaannya. Wajah istri adalah keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan.

Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia memiliki istri yang berwajah memikat.

Tapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa fakta-fakta. Dan kedua, bantahan dari sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Konon, Christina Onassis, mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi, dan pulau milik pribadi juga. Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit. Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir ia menutup kisah hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.


Kecantikan wajah Christina tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan antara ia dan suami-suaminya tidak pernah kuat.

Kasus ini memberikan ibroh kepada kita bahwa bukan kecantikan wajah secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya bersifat qalbiyyah!

Bantahan kedua, sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari, Muslim)

Hadist di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika memandang sehingga perasaan suami semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan rupa secara zhahir. Ada yang bersifat bathiniyyah.

Dengan demikian wahai saudariku muslimah, tidak mesti kita harus mempercantik diri dengan alat kosmetik atau dengan menggunakan gaun-gaun aduhai yang akhirnya akan membawa kita pada sikap berlebihan pada hal yang halal bahkan menyebabkan kita menjadi lalai dan meninggalkan segala yang bermanfaat dalam perkara-perkara akhirat, wal ‘iyadzubillah. Namun tidak berarti kita meninggalkan perawatan diri dengan menjaga fitrah manusia, dengan menjaga kebersihan, kesegaran dan keharuman tubuh yang akhirnya melalaikan diri dalam menjaga hak suami. Ada yang lebih berarti dari semua itu, ada yang lebih penting untuk kita lakukan demi mendapatkan cinta suami.

Sesungguhnya cinta yang dicari dari diri seorang wanita adalah sesuatu pengaruh yang terbit dari dalam jiwa dengan segala kemuliaannya dan mempunyai harga diri, dapat menjaga diri, suci, bersih, dan membuat kehidupan lebih tinggi di atas egonya.

Untuk itulah saudariku muslimah… Tuangkanlah di dalam dada dan hatimu dengan cinta dan kasih sayang serta tanamkanlah kemuliaan wanita muslimah seperti jiwamu yang penuh dengan kebaikan, perhatian serta kelembutan. Bukankah kita telah melihat contoh-contoh yang gemilang dari pribadi-pribadi yang kuat dari para shahabiyyah radiyallahu ‘anhunna…?

Janganlah engkau penuhi dirimu dengan ahlak yang selalu sedih dan gelisah, banyak pengaduan dan keluh kesah dan selalu mengancam, karena hal tersebut akan menggelapkan hatimu. Tersenyumlah untuk kehidupan. Seperti kuatnya para shahabiyyah dalam menghadapi kehidupan yang keras dan betapa kuatnya wanita-wanita yang lembut itu mempertahankan agamanya…

Perhiasan jiwa, itulah yang lebih utama. Yaitu sifat-sifat dan budi pekerti yang diajarkan Islam, yang diawali dengan sifat keimanan. Sebagaimana firman Allah, (yang artinya) “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.” (QS. Al-Hujaraat: 7)

Apabila keimanan telah benar-benar terpatri dalam hati, maka akan tumbuhlah sifat-sifat indah yang menghiasi diri manusia, mulai dari Ketakwaan, Ilmu, Rasa Malu, Jujur, Terhormat, Berani, Sabar, Lemah Lembut, Baik Budi Pekerti, Menjaga Silaturrahim, dan sifat-sifat terpuji lainnya yang tidak mungkin disebut satu-persatu. Semuanya adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hambanya agar dapat bahagia hidup di dunia dan akhirat.

Wanita benar-benar sangat diuntungkan, karena ia memiliki kesempatan yang lebih besar dalam hal perhiasan jiwa dengan arti yang sesungguhnya, yaitu ketika wanita memiliki sifat-sifat terpuji yang mengangkat derajatnya ke puncak kemuliaan, dan jauh dari segala sesuatu yang dapat menghancurkanya dan menghilangkan rasa malunya….!

Saudariku… jika engkau telah menikah, maka nasihat ini untuk mengingatkanmu agar engkau selalu menampilkan kecantikan dirimu dengan kecantikan sejati yang berasal dari dalam jiwamu, bukan dengan kecantikan sebab yang akan lenyap dengan lenyapnya sebab.

Saudariku… jika saat ini Allah belum mengaruniai engkau jodoh seorang suami yang sholeh, maka persiapkanlah dirimu untuk menjadi istri yang sholihah dengan memperbaiki diri dari kekurangan yang dimiliki lalu tutuplah ia dengan memunculkan potensi yang engkau miliki untuk mendekatkan dirimu kepada Yang Maha Rahman, mempercantik diri dengan ketakwaan kepada Allah yang dengannya akan tumbuh keimanan dalam hatimu sehingga engkau dapat menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia.

Saudariku… ini adalah sebuah nasihat yang apabila engkau mengambilnya maka tidak ada yang akan diuntungkan melainkan dirimu sendiri.

Disalin dari: Buletin al-Izzah edisi no16/thn III/Muharram 1425 H

(Bulletin ini diterbitkan oleh Forkimus (Forum Kajian Islam Muslimah Salafiyah) Mataram, Lombok, NTB)

Sumber: http://www.muslimah.or.id


Labels:

posted by n.lestari @ 8:02:00 AM, ,




Menyemai Akhlaq Rasulullah SAW


Tak ada akhlaq sebaik akhlaq nya Rasulullah. Beliau tidak gila harta, tidak rakus, tidak licik, tidak culas, tidak khianat dan tidak mencekik. Beliau juga hidup sederhana. Menyelami akhlak Rasul, ibarat kita menyelami samudra, terhampar luas seakan tak bertepi, indah mengagumkan dan menyimpan bulir-bulir mutiara yang amat berharga. Semakin kita mendalami, semakin kita dibuat terpesona oleh keanekaragaman ikan, plankton dan karangnya. Begitu juga akhlak
Nabi, semakin kita mengkaji lebih dalam, semakin kita terbuai oleh kemuliaan yang senantiasa memancar dari sukmanya. Betapa hati terasa sejuk nikmat dan damai, jika beliau hadir di tengah kita. Pantas kiranya jika Allah SWT memuji dalam firman-Nya yang berbunyi, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al Qalam: 04)

Dalam kamus Al Muhith, akhlak menurut bahasa adalah tabiat, watak, harga diri dan agama. Ia merupakan gambaran batin seseorang, yang meliputi jiwa, sifat-sifat jiwa dan makna-makna khusus dari jiwa tersebut. Jika akhlak atau moral erat kaitannya dengan batin, maka pengejawentahan lahirnya adalah prilaku. Akhlak yang baik akan mencerminkan prilaku yang baik pula dan sebaliknya akhlak yang buruk akan mencerminkan prilaku yang buruk. Jadi,
baik atau buruknya prilaku kehidupan manusia sangat tergantung pada hati yang ada di balik dadanya.

Dan inilah yang menjadi modal utama bagi keutuhan sebuah bangsa. Kita hampir sepakat bahwa ketidakstabilan ekonomi, sosial, hukum dan politik adalah akibat moral bangsa kita yang anjlok, runtuh dan tercabik-cabik. Korupsi yang menggurita, kriminalitas yang terus mendera, pornografi dan pornoaksi yang menyampah adalah potret bangsa yang menyesakkan dada. Tak heran jika musibah terus menghampiri kita. "Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (QS. Asy Syura: 30). Siklus alam yang biasanya mendatangkan berkah justru menjadi bencana. Lalu apakah bangsa kita akhirnya akan tergulung sebagaimana bangsa 'Aad?


Seorang penyair kenamaan, Ahmad Syauqi pernah mendendangkan lagunya yang berbunyi, "Kekekalan suatu bangsa itu tergantung pada akhlaknya, apabila akhlak mereka hilang maka akan lenyaplah suatu bangsa". Wahai saudara-saudaraku, kita masih memiliki banyak kesempatan untuk membangun kesadaran diri masing-masing sebelum turun azab yang lebih besar lagi. Selama kita masih mengakui Muhammad sebagai Rasul teladan kita, maka percikan harapan yang menggantung nun jauh di sana akan kita raih. Dengan segenap rindu dan cinta, cahaya Muhammad harus kita tangkap lalu kita pantulkan ke bumi tercinta ini yang kering akan nilai-nilai spiritual (spiritual of values). Mencintai Rasulullah tidak cukup dengan bershalawat sebanyak mungkin, tapi berupaya bagaimana meneladani akhlak mulia beliau yang pernah dipraktikkan dalam kesehariannya. Karena Nabi adalah manifestasi dari ajaran Allah yang di sampaikan dalam bentuk tingkah laku. Bahkan Allah sendiri mensyaratkan kepada para hamba-Nya, bahwa untuk mencintai Aku (Allah), maka ikutilah Nabi, sebagaimana dalam firman-Nya yang berbunyi, "Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS. Ali Imran: 31).

Betapa mulianya engkau wahai Rasul, namamu bersanding dengan Asma` Allah yang paling agung, sehingga untuk meniti tangga cinta yang sejati harus melalui engkau terlebih dahulu. Wahai Rasululullah, sudah terlampau jauh kiranya kami melenceng dari gaya hidupmu yang tidak gila harta, tidak rakus, tidak licik, tidak culas, tidak khianat dan tidak mencekik. Engkau hidup sederhana, dermawan, penyabar, penyayang, pemalu, jujur, adil dan sifat-sifat lainnya yang jika kita gali satu persatu mungkin akan menghabiskan berlembar-lembar HVS. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan memberikan kilas balik tentang empat akhlak Nabi yang menurut hemat penulis sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini dalam rangka menyehatkan dan mengawal moral bangsa dari kehancuran. Empat akhlak Nabi yang dimaksud adalah adil, jujur, penyayang dan pemalu.

Apapun profesi kita dan siapapun kita, jika benar-benar mengimplementasikan keempat akhlak tersebut, niscaya kedamaian akan bertaburan di seluruh pelosok nusantara. Keadilan Kita sebagai bangsa besar yang mengaku sebagai bangsa pancasilais dan religius, ternyata begitu rapuh moralnya. Banyak kebijakan dan keputusan mengandung muatan yang bertentangan dengan moral, penuh dendam dan saling menjatuhkan. Produk kekuasaan seharusnya mengalir kepada rakyat dalam bentuk keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan ketenteraman.

Coba kita menengok konsep keadilan yang pernah dipraktekkan Nabi, Infinite Justice: sebuah keadilan yang tak mengenal sekat ruang, pelaku dan takaran sekaligus tidak mengandung unsur kecongkakan dan kedengkian (ghurur dan ghulul). Memang terasa aneh, anak tukang ojek maling ayam dihakimi, tapi pejabat yang maling duit negara (rakyat) dalam jumlah miliaran kebal hukum. Kedua jenis kriminal tersebut di mata hukum sama salahnya, tapi lebih salah lagi jika maling yang dilakukan pejabat dan dalam takaran yang jauh lebih besar daripada seekor ayam bisa lolos dari jerat hukum. Tidak habis pikir, apa karena pelakunya adalah pejabat ataukah karena malingnya di lingkungan kantor?

Diskriminasi hukum yang sedang menggejala dewasa ini, pernah juga dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad pada saat menghadapi kasus pencurian yang dilakukan oleh Fathimah Al Makhzumiyah, putri dari kepala suku Al Makhzum. Beliau tetap menghukumnya meski mendapat amnesti dari Usamah bin Zaid, sahabat dekat Nabi. Sehingga menjelang sore beliau berpidato di depan para sahabat, ''Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian semua adalah disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Ketika salah seorang yang dianggap memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi mencuri, mereka melewatkannya atau tidak menghukumnya. Namun, ketika ada seorang yang dianggap rendah, lemah dari segi materi, ataupun orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, dan rakyat biasa, mereka menghukumnya. Ketahuilah, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.'' (HR. Bukhari-Muslim).

Akhirnya, Nabi tetap menghukum Fathimah Al Makhzumiyah, sehingga ia kembali ke jalan yang benar. Pada kasus lain, saat Nabi Muhammad sakit menjelang wafatnya, dengan istri yang jumlahnya 9, beliau tetap berupaya menunjukkan sikap keadilannya. Beliau meminta salah seorang sahabat agar menuntun dirinya untuk menggilir ke setiap istrinya. Beliau selalu memberikan apa yang menjadi hak seorang istri, hingga para istri Nabi merasa kasihan melihat kondisi Nabi dan mereka setuju dalam masa pengobatannya Nabi ditempatkan di rumah Aisyah. Keadilan yang dibangun oleh Nabi bukan sekadar memastikan bahwa pelaku kejahatan itu benar-benar diadili dan dihukum tapi juga untuk mengekang dan meminimalisir perbuatan kriminal. Kita bukan bermaksud untuk menyeret-nyeret zaman Nabi ke era moderen atau mempersoalkan hukum potong tangan dan praktik poligaminya, akan tetapi jauh lebih mulia dari itu, yaitu bahwa menjunjung tinggi kepastian hukum, mengusung keadilan yang inklusif-universal dan mementingkan kepentingan rakyat, keadilan bagi semua, adalah energi yang paling penting bagi kelangsungan sebuah bangsa.

Kejujuran "Ikhlas beramal" adalah salah satu slogan yang sangat akrab di telinga kita. Namun apakah kita bisa menjamin seseorang bisa benar-benar ikhlas dalam beramal? Kehidupan yang sudah diformat dengan gaya kapitalis, rasanya susah untuk mencapai derajat sufi yang satu ini. Orang betawi bilang, "Hari gini gitu lho, mane ade yang gratis alias ikhlas tanpa imbalan". Salah-salah dalam bibir terucap ikhlas dengan gaji yang telah ditetapkan, tapi buntutnya nilep. Ini lebih menyeramkan, karena kejujuran telah tergadaikan oleh kemunafikan. Komitmen kejujuran harus dijunjung tinggi bersama, baik di level negara, pemegang kekuasaan (stake holders), korporat, maupun masyarakatnya. Bahkan kelanggengan dan keharmonisan rumah tangga juga sangat tergantung pada tingkat kejujuran dan keterbukaan dari kedua belah pihak.

Betapa mahal harga sebuah kejujuran, sehingga Nabi SAW pernah berpesan, “Kamu sekalian harus bersikap jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu dapat mengarahkan pada kebaikan dan kebaikan bisa mengarahkan ke surga dan seorang laki-laki yang terus menerus bersikap jujur dan berusaha untuk bersikap jujur, maka di sisi Allah dia tercatat sebagai orang yang jujur. Dan berhati-hatilah kamu dari kebohongan, karena kebohongan bisa mengarahkan kamu ke perbuatan keji dan perbuatan keji bisa mengarahkan kamu ke neraka dan seorang laki-laki yang terus menerus berbuat bohong dan selalu berusaha untuk berbuat bohong, maka di sisi Allah dia tercatat sebagai pembohong". (HR. Muslim) Kata siapa "Jujur itu Hancur"?. Pameo yang sering terdengar di tempat kita. Meski agak iseng, kondisi bansa kita tak jauh dari itu. Padahal, jika dicermati, kata-kata itu hanya cocok pada orang yang tamak.

Lihatlah Muhammad Rasulullah SAW. Kejujurannya sebelum didaulat menjadi Rasul, diakui oleh para musuhnya, sehingga mereka memberi julukan Al Amin (orang yang jujur). Khadijah, seorang pembisnis wanita yang sukses pada waktu itu, memilih Nabi sebagai pendamping hidupnya juga karena faktor kejujurannya. Oleh karena itu, dalam rangka menciptakan pemerintahan yang bersih (good governance), kita harus berani berkata yang benar walaupun bagi sebagian orang memang terasa pahit! tapi itulah yang seperti diajarkan Rasulullah SAW "Katakanlah kejujuran itu walaupun pahit rasanya.!" Walaupun risiko yang diterima adalah cemooh 'sok suci', pengucilan atau bahkan di-chutik- dari meja kerjanya, tapi itu lebih terhormat daripada kebusukan menjadi komoditas di balik kursi empuknya dan akhirnya terperosok dalam lingkaran kejahatan kolektif.

Cinta dan Kasih Sayang Rasa cinta merupakan salah satu naluri fitrah yang telah Allah SWT anugerahkan kepada makhluk-Nya. Curahan cinta yang berlebihan terkadang dapat mentolerir tindakan kriminal seseorang. Cinta yang demikian justru mengaburkan makna cinta itu sendiri. Karena cinta seseorang kepada sesuatu, meniscayakan dia berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi sesuatu yang dicintainya. Kita sayang pada tubuh kita, secara otomatis kita tidak akan menyentuh narkoba dan sejenisnya. Kita sayang pada lingkungan, berarti kita tidak mungkin membuang sampah di sembarang tempat atau membabat hutan secara liar. Kita cinta pada sesama manusia, maka sudah pasti kita tidak rela melihatnya kelaparan. Dan seterusnya.... Itulah kekuatan cinta (The Power of Love). Bisa dibayangkan, jika kuncup cinta bersemi di setiap sudut bumi pertiwi, maka tidak ada eksploitasi alam tanpa kontrol, tidak ada manusia saling memangsa dan menggilas. Nabi SAW pernah bersabda, “Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka para malaikat yang ada di langit akan menyayangimu". (HR. Tirmidzi).

Dengan musibah yang bertubi-tubi, apakah selama ini kasih sayang kita tertutupi oleh rasa dendam, benci, sombong, nafsu dan ambisi, sehingga penduduk langit sudah tak sayang lagi? Rasululullah SAW teladan kita, dikenal sebagai sosok yang amat penyayang, bahkan terhadap binatang dan musuh-musuhnya sekalipun. Dikisahkan pada suatu hari ketika Rasul berjalan pulang ke rumahnya, beliau melihat seekor kucing sedang tidur bersama anak-anaknya di atas jubah yang hendak dipakainya. Agar mereka tidak terganggu, lalu beliau menggunting bagian jubah yang ditiduri kucing tersebut dan selebihnya beliau pakai. Di tengah kesibukannya sebagai pemimpin, beliau tidak ingin melihat ada umat yang terluka hatinya, kecewa, sedih, marah, dan benci. Dalam sebuah hadits disebutkan, "Tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang. Para sahabat berkata, "Kami sudah saling menyayangi." Lalu Nabi bersabda: "Bahwa sayang yang dimaksud di sini bukan saja sayang sekadar kepada salah seorang temannya, dalam ruang lingkup terbatas, tetapi sayang (yang dimaksud) adalah sayang yang bersifat menyeluruh." (HR. Thabrani).

Dan sejarah membuktikan, karena sifat penyayangnya yang begitu besar, mengakibatkan banyak orang kafir jatuh dalam pelukan Islam. Malu Allah SWT merasa malu, jika membiarkan kedua tangan hamba yang shaleh hampa. Malaikat merasa malu kepada Allah, saat menyodorkan catatan amal seorang hamba yang penuh dengan dosa. Dan ketika Mikraj, Nabi Muhammad merasa malu kepada Allah karena bolak-balik meminta keringanan jumlah rakaat shalat. Nah, sekarang giliran kita, seberapa parahkah kita terjangkit penyakit 'bermuka tebal'? Rasa malu yang seharusnya menjadi rem prilaku kotor kita, telah terkikis oleh sifat egois (mengejar kepentingan sendiri). Sehingga kebaikan menjadi terbalik 180 derajat, kejujuran kita cerca, sementara kepalsuan kita amini. Berjilbab dinilai kuno dan berkostum ketat yang terlihat pusarnya dianggap modis. Mematuhi sesuai prosedur dianggap menghambat kemajuan dan cara pintas kita anggap lumrah. Kelicikan kita bela, dan ketulusan kita jegal. Memang benar apa kata Nabi SAW, “Jika sudah tidak ada rasa malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari)

Rasa malu yang sudah menjauh entah kemana, bisa membuat keimanan seseorang luntur, mata batin menjadi gelap dan Tuhan dianggap tidak ada. Na'udzu billah min dzalik. Mengundang rasa malu yang sudah terlanjur jauh, memang tidaklah mudah. Oleh karena itu, budayakanlah rasa malu untuk berbuat sesuatu yang merugikan, mengganggu dan merampas hak orang lain. Dan tanamkanlah rasa malu semenjak dini terhadap anak-anak dan murid-murid kita, yang mana mereka adalah tunas harapan bangsa. Sebagai penutup tulisan ini, kita sama-sama berdoa semoga dengan memperbaiki akhlak dan prilaku kita, serta menyadari kealpaan kita dalam meneladani Rasul SAW, kita akan mendapatkan kucuran rahmat dan berkah dari Allah SWT. Amin...

Ingat sabda Nabi yang berbunyi, ” Diantara kamu sekalian yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Bukhari). Bahkan Buddha saja ada salah satu ajaran yang mengatakan, "Harumnya bunga tak dapat melawan arah angin, begitu pula harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi harumnya kebaikan dapat melawan arah angin: harumnya nama orang yang baik dapat menyebar ke segenap penjuru." Begitu pulalah dalam Islam, Wallâhu `A'lam bi Ash Shawab. [Penulis alumni Al-Azhar, Kairo]

Labels:

posted by n.lestari @ 10:20:00 PM, ,




Mendayunglah Kalian Hingga Ke Tepian


Saya dapat kiriman dari sebuah milis, isinya memiliki makna yang sangat sangat bagus, semoga dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah.

Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...

Menikah adalah sunnah terbaik dari sunnah yang baik itu yang saya baca dalam sebuah buku pernikahan. Jadi ketika seseorang menikah, sungguh ia telah menjalankan sebuah sunnah yang disukai Nabi. Dalam buku tersebut dikatakan bahwa Allah hanya menyebut nabi-nabi yang menikah dalam kitab-Nya. Hal ini menunjukkan betapa Allah menunjukkan keutamaan pernikahan.


Dalam firmannya, "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang diantaramu.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kalian yang berfikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Menikah itu Subhanallah indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri.
Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar.

Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian. Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati.

Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah, kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah.
Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Saya kira akan terjadi "perang" hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang.

Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu suaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian.
"Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian jawabannya.


Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda.

Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka.
Kedua, ketika seseorang mencintai, maka dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior.

Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung.

Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allah supaya suami selalu dalam perlindunganNya. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada istri tercinta, sedang apakah gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.


Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad.


Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada':

"Barang siapa -diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub atas kesabarannya menanggung penderitaan.

Dan barang siapa -diantara para istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun"
(HR Nasa-iy dan Ibnu Majah).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan, Patrikan firman Allah dalam ingatan :

"...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak :
"Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya"

(Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a).


Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada para Istrinya.

Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju tepian hakiki "Surga".

Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS.At-Tahrim: 6)

Akhirnya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga berlebihan. Meski riak-riak gelombang mengobang-ambing perahu yang sedang dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian.

Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah. Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta.


Sama seperti syair yang digaungkan Gibran,

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman.

Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.

Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga, cinta yang menyelamatkan.
Semoga Allah memampukan kalian membingkai keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah.
Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga.
Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi sampai ke sana, the real world "Akhirat".

Mudah-mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian. Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan besar, yang begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan.

Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak perlu lagi saya bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.


Labels:

posted by n.lestari @ 11:01:00 PM, ,




Allah won't Ask


1. Allah won't ask what kind of car you drove, but will ask how many people you drove who didn't have

transportation.

2. Allah won't ask what your highest salary was, but will ask if you compromised your character or
morals to obtain that salary.

3. Allah won't ask the square footage of your house, but will ask how many people you welcomed into
your home.

4. Allah won't ask about the fancy clothes you had in yourcloset, but will ask how many of those clothes
helped the needy.

5. Allah won't ask about your social status, but will ask what kind of class you displayed.

6. Allah won't ask how many material possessions you had, but will ask if they dictated your life.

7. Allah won't ask how much overtime you worked, but will ask if you worked overtime for your family
and loved ones.

8. Allah won't ask how many promotions you received, but will ask how you promoted others.


9. Allah won't ask what your job title was, but will ask if you did your job to the best of your ability.


10. Allah won't ask what you did to help yourself, but will ask what you did to help others.


11. Allah won't ask how many friends you had, but will ask how many people to whom you were a true
friend.

12. Allah won't ask what you did to protect your rights, but will ask what you did to protect the rights of
others.

13. Allah won't ask in what neighborhood you lived, but will ask how you treated your neighbours.


14. Allah won't ask about the color of your skin, but will ask about the content of your character.


15. Allah won't ask how many times your deeds matched your words, but will ask how many times they
didn't.


Labels:

posted by n.lestari @ 2:09:00 PM,




Astaghfirullah

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kiriman email dari seorang teman, saya akan memuatnya disini karena isinya insyaAllah bermanfaat untuk kita semua. Mari kita simak bersama.

Di riwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, kemudian datang pemuda Arab masuk ke alam masjid dengan menangis. Apabila Rasulullah S..A.W melihat pemuda itu menangis maka baginda pun berkata, "Wahai orang muda kenapa kamu menangis?" Maka berkata orang muda itu,"Ya Rasulullah S.A.W, ayah saya telah meninggal dunia dan tidak ada kain kafan dan tidak ada orang yang hendak memandikannya." Lalu Rasulullah S.A.W memerintahkan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. ikut orang muda itu untuk melihat masalahnya. Setelah mengikuti orang itu, maka Abu Bakar r.a dan Umar r.a. mendapati ayah orang muda itu telah bertukar rupa menjadi babi hitam, maka mereka pun kembali dan memberitahu kepada Rasulullah S.A.W, "Ya Rasulullah S.A.W, kami lihat mayat ayah orang ini bertukar menjadi babi hutan yang hitam."kemudian Rasulullah S.A.W dan para sahabat pun pergi ke rumah orang muda dan baginda pun berdoa kepada Allah S.W.T, kemudian mayat itu pun bertukar kepada bentuk manusia semula. Lalu Rasulullah S.A.W dan para sahabat menyembahyangkan mayat tersebut.

Saat mayat itu hendak dikebumikan, maka sekali lagi mayat itu berubah menjadi seperti babi hutan yang hitam, maka Rasulullah S.A.W pun bertanya kepada pemuda itu, "Wahai orang muda, apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu sewaktu dia di dunia dulu?" Berkata orang muda itu, "Sebenarnya ayahku ini tidak mau mengerjakan shalat."

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda, "Wahai para sahabatku, lihatlah keadaan orang yang meninggalkan sembahyang. Di hari kiamat nanti akan bangkitkan oleh Allah S.W.T seperti babi hutan yang hitam."

Dizaman Abu Bakar r.a ada seorang lelaki yang meninggal dunia dan sewaktu mereka menyembahyanginya tiba-tiba kain kafan itu bergerak. Apabila mereka membuka kain kafan itu mereka melihat ada seekor ular sedang membelit leher mayat tersebut serta memakan daging dan menghisap darah mayat. Lalu mereka coba membunuh ular itu.

Apabila mereka coba untuk membunuh ular itu, maka berkata ular tersebut, "Laa ilaaha illallahu Muhammad Rasulullah, mengapakah kamu semua hendak membunuh aku? Aku tidak berdosa dan aku tidak bersalah. Allah S.W.T yang memerintahkan kepadaku supaya menyiksanya sehingga sampai hari kiamat."

Lalu para sahabat bertanya,"Apakah kesalahan yang telah dilakukan oleh mayat ini?"

Berkata ular, "Dia telah melakukan tiga kesalahan, diantaranya:

1. Apabila dia mendengar azan dia tidak mau datang untuk sembahyang berjamaah.

2. Dia tidak mau keluarkan zakat hartanya.

3. Dia tidak mau mendengar nasihat para ulama.

Maka inilah balasannya. Patut untuk menjadi renungan kita semua.


Labels:

posted by n.lestari @ 10:07:00 PM, ,